Beruang Madu

Beruang Madu

Tuesday, September 18, 2012

Kesultanan Banjar


Lancana dan Pataka Kesultanan Banjar
Kesultanan Banjar (berdiri 1520, masuk Islam 24 September 1526) adalah sebuah kesultanan wilayahnya saat ini termasuk ke dalam provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kesultanan ini semula beribukota di Banjarmasin kemudian dipindahkan ke Martapura dan sekitarnya (Kabupaten Banjar). Ketika beribukota di Martapura disebut juga Kerajaan Kayu Tangi.
Keraton Kesultanan Banjar di Tepi Sungai Mesa (1857)
Ketika ibukotanya masih di Banjarmasin, maka kesultanan ini disebut Kesultanan Banjarmasin. Kesultanan Banjar merupakan penerus dari Kerajaan-kerajaan yang pernah eksis di Kalimantan Selatan, dimulai dari Kerajaan Nan Sarunai yang di didirikan oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan, Kerajaan Negara Dipa yang didirikan oleh Empu Jatmika yang berasal Negeri Keling, diteruskan dengan berdirinya Kerajaan Negara Daha yang didirikan oleh keturunan ke-4 dari Empu Jatmika yaitu Maharaja Sari Kaburangan semua kerajaan itu bercorak Hindu, dan terakhir berdirilah Kesultanan Banjar yang didirikan oleh Raden Samudera bergelar Sultan Suriansyah yang merupakan Cucu dari Maharaja Sukarama (Raja ke-2 Kerajaan Negara Dipa, anak dari Maharaja Sari Kaburangan).

Sejarah
Cap Kesultanan Banjar
Kesultanan Banjar adalah nama lain dari Kerajaan Banjarmasin atau Kerajaan Banjar. Kesultanan Banjar berkembang sampai pada abad ke-19 dan merupakan Kerajaan Islam merdeka.
Sebelum berdirinya Kesultanan Banjar, terlebih dahulu telah berdiri Kerajaan Nan Sarunai, Kerajaan Negara Dipa dan Kerjaan Negara Daha. Cikal bakal Kesultanan Banjar berawal dari suksesi perebutan tahta raja di Kerajaan Negara Daha, perebutan tahta ini terjadi antara Raden Samudera dengan Pangeran Tumenggung.
Makam Sultan Suriansyah,
Banjarmasin Utara
Raden Samudera merupakan cucu dari Maharaja Sukarama, penguasa Kerajaan Negara Daha. Sebelum meninggal dunia beliau berwasiat agar tahta diserahkan kepada cucu beliau yaitu Raden Samudera. Tanpa disadari wasiat ini menimbulkan konflik internal di dalam kerajaan, yang menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan yang berawal dari terbunuhnya Pangeran Aria Mangkubumi yang dibunuh oleh Pangeran Tumenggung yang sama-sama ingin menduduki tahta kerajaan. Dan akhirnya Raden Samudera terusir dari Istana Kerajaan Negara Daha dan mengungsi dan mendapat perlindungan di daerah Muara Kuin, dikomunitas orang-orang Melayu, yang dipimpin oleh Patih Masih. Dan dalam komunitas itu akhirnya Raden Samudera diangkat sebagai raja. Atas usulan Patih Masih, Raden Samudera diminta untuk mencari dukungan ke Jawa, yaitu Kesultanan Demak. Karena pasukan Kerajaan Banjar tidak mampu menahan serangan dari pasukan Kerajaan Negara Daha dibawah Maharaja Pangeran Tumenggung. Akhirnya Patih Balit diutus untuk menghadap Sultan Trenggono di Kesultanan Demak. Dan permintaan Raden Samudera dikabulkan oleh sultan Demak dengan syarat bahwa Raden Samudera beserta para pengikutnya harus memeluk agama Islam dan jika nantinya berdiri kerajaan di bawah kekuasaan Raden Samudera, maka agama Islam harus dijadikan sebagai agama negara. Raden Samudera menyanggupi syarat dari Sultan Trenggono.
Kesultanan Banjar di Tepi Sungai Mesa
Kesultanan Demak mengirim pasukan dibawah pimpinan Khatib Dayan untuk menyerbu Kerajaan Daha. Gabungan kekuatan antara Raden Samudera, Patih Masih dan komunitas Suku Melayu, beberapa komunitas dari Suku Dayak, serta pasukan dari Demak berhasil menggulingkan tahta Pangeran Tumenggung. Dan Kerajaan Negara Daha takluk dan berada di bawah kekuasaan Raden Samudera. Dikarenakan masih mempunyai ikatan kekerabatan, Pangeran Tumenggung tidak dibunuh melainkan diperintahkan untuk berkuasa di Batang Alai.
Syarat dari Kesultanan Demak dipenuhi oleh Raden Samudera dengan mengubah agama negara yang sebelumnya Hindu menjadi Islam. Dan nama Raden Samudera juga berganti menjadi Sultan Suriansyah. Status Kerajaan Banjar berubah menjadi Kesultanan Banjar. Akhirnya pada tanggal 24 September 1526 M, berdirilah Kesultanan baru di Banjarmasin dengan nama Kesultanan Banjar, dengan Sultan pertama Raden Samudera bergelar Sultan Suriansyah.

Masa Kejayaan Kesultanan Banjar
Kesultanan Banjar mulai mengalami masa kejayaan pada dekade pertama abad ke-17 dengan lada sebagai komoditas dagang, secara praktis barat daya, tenggara dan timur pulau Kalimantan membayar upeti pada kerajaan Banjarmasin. Sebelumnya Kesultanan Banjar membayar upeti kepada Kesultanan Demak, tetapi pada masa Kesultanan Pajang penerus Kesultanan Demak, Kesultanan Banjar tidak lagi mengirim upeti ke Jawa.
Supremasi Jawa terhadap Banjarmasin, dilakukan lagi oleh Tuban pada tahun 1615 untuk menaklukkan Banjarmasin dengan bantuan Madura (Arosbaya) dan Surabaya, tetapi gagal karena mendapat perlawanan yang sengit. Sultan Agung dari Mataram (1613–1646), mengembangkan kekuasaannya atas pulau Jawa dengan mengalahkan pelabuhan-pelabuhan pantai utara Jawa seperti Jepara dan Gresik (1610), Tuban (1619), Madura (1924) dan Surabaya (1625). Pada tahun 1622 Mataram kembali merencanakan program penjajahannya terhadap kerajaan sebelah selatan, barat daya dan tenggara pulau Kalimantan, dan Sultan Agung menegaskan kekuasaannya atas Kerajaan Sukadana tahun 1622.
Seiring dengan hal itu, karena merasa telah memiliki kekuatan yang cukup dari aspek militer dan ekonomi untuk menghadapi serbuan dari kerajaan lain, Sultan Banjar mengklaim Sambas, Lawai, Sukadana, Kotawaringin, Pembuang, Sampit, Mendawai, Kahayan Hilir dan Kahayan Hulu, Kutai, Pasir, Pulau Laut, Satui, Asam Asam, Kintap dan Swarangan sebagai vazal dari kerajaan Banjarmasin, hal ini terjadi pada tahun 1636.
Sejak tahun 1631 Banjarmasin bersiap-siap menghadapi serangan Kesultanan Mataram, tetapi karena kekurangan logistik, maka rencana serangan dari Kesultanan Mataram sudah tidak ada lagi. Sesudah tahun 1637 terjadi migrasi dari pulau Jawa secara besar-besaran sebagai akibat dari korban agresi politik Sultan Agung. Kedatangan imigran dari Jawa mempunyai pengaruh yang sangat besar sehingga pelabuhan-pelabuhan di pulau Kalimantan menjadi pusat difusi kebudayaan Jawa.
Disamping menghadapi rencana serbuan-serbuan dari Mataram, kesultanan Banjarmasin juga harus menghadapi kekuatan Belanda. Pada tahun 1637 Banjarmasin dan Mataram mengadakan perdamaian setelah hubungan yang tegang selama bertahun-tahun. Perang Makassar (1660-1669) menyebabkan banyak pedagang pindah dari Somba Opu, pelabuhan kesultanan Gowa ke Banjarmasin. Mata uang yang beredar di Kesultanan Banjar disebut doit (duit=logat banjar).
Sebelum dibagi menjadi beberapa daerah (kerajaan kecil), wilayah asal Kesultanan Banjar meliputi provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, sebelah barat berbatasan dengan Kerajaan Tanjungpura pada lokasi Tanjung Sambar (Ketapang) dan sebelah timur berbatasan dengan Kesultanan Pasir pada lokasi Tanjung Aru. Pada daerah-daerah pecahannya, rajanya bergelar Pangeran, hanya di Kesultanan Banjar yang berhak memakai gelar Sultan. Kesultanan-kesultanan lainnya mengirim upeti kepada Kesultanan Banjar, termasuk Kesultanan Pasir yang ditaklukan tahun 1636 dengan bantuan Belanda.
Kesultanan Banjarmasin merupakan kerajaan terkuat di pulau Kalimantan. Sultan Banjar menggunakan perkakas kerajaan yang bergaya Hindu.

Pengaruh Belanda di Kesultanan Banjar
Pangeran Muhammad Aminullah
Sulitnya menjalin hubungan dengan Kesultanan Banjar membuat Belanda bersiasat untuk menunggu tanpa mengurangi gairahnya untuk menguasai perdagangan lada hitam di Kesultanan Banjar. Siasat Belanda ini menemukan waktu yang tepat ketika terjadi suksesi kepemimpinan (perebutan tahta) di Kesultanan Banjar, antara Pangeran Muhammad Aminullah, anak dari Sultan Kuning dengan Hamidullah, adik dari Sultan Kuning.
Perebutan tahta berawal ketika Sultan Kuning Wafat pada tahun 1734 M dengan meninggalkan seorang putra yang masih berumur 5 tahun yang bernama Muhammad Aminullah. Lalu adik Sultan Kuning bernama Hamidullah diangkat menjadi pengampu tahta sementara dengan bergelar Sultan Tamjidillah I.
Setelah Muhammad Aminullah dewasa dan meminta tahta Kesultanan Banjar, ternyata Sultan Tamjidillah I tidak memberikan hak tersebut kepada Muhammad Aminullah, dan hanya diberi jabatan Mangkubumi dan dikawinkan dengan puteri Sultan Tamjidillah I.
Belanda yang sejak awal berniat menanamkan pengaruhnya di Kesultanan Banjar melihat peluang untuk mendekati salah satu pihak dalam perebutan tahta. Belanda akhirnya mendekati Sultan Tamjidillah I. Dan dengan bantuan Belanda, Muhammad Aminullah terus dipojokkan dengan cara "ditahan", di istana. Tetapi pada tahun 1753 M, Muhammad Aminullah berhasil melarikan diri ke Tabanio, suatu daerah di Tanah Laut.
Ditempat tersebut, Muhammad Aminullah berkomplot dengan beberapa bajak laut dan membangun markas perlawanan dengan tujuan awal mengacau jalur perdagangan dari dan menuju ke Kesultanan Banjar. Sebagai balasan atas jasanya dalam mendesak Muhammad Aminullah untuk keluar dari istana, Belanda memaksa Sultan Tamjidillah I untuk menanda tangani perjanjian perdagangan lada hitam tahun 1747 M dan mengijinkan membangun kantor di Tabanio.
Makam Sultan Tamjidillah I
Pada tanggal 20 Oktober 1756 Belanda diwakili oleh J.A. Paraficini membuat surat perjanjian dengan Sultan Tamjidillah I, dan seminggu kemudian tepatnya tanggal 27 Oktober 1756, Paraficini juga membuat perjanjian  dengan Muhammad Aminullah di Tabanio. Dalam pernyataannya, Paraficini menjanjikan kepada Sultan Tamjidillah I bahwa Belanda akan cenderung memberikan dukungan (bantuan kepada Sultan Tamjidillah I. Tetapi pada kesempatan lain, Paraficini juga memberikan dukungan yang sama kepada Muhammad Aminullah dan menjanjikan membantu untuk mengambil kembali tahta yang menjadi haknya. Siasat ini didasari oleh kekhawatiran Belanda akan kekuatan Muhammad Aminullah. dan akhirnya pada tanggal 2 Agustus 1759 Muhammad Aminullah dengan kekuatan besar menyerang Sultan Tamjidillah I. Atas dasar serangan ini, Sultan Tamjidillah I terpaksa menyerahkan tahta Kesultanan Banjar kepada Muhammad Aminullah yang akhirnya dinobatkan sebagai sultan pada tanggal 3 Agustus 1759.
Makam Sultan Tahmidillah II
Masa pemerintahan Sultan Muhammad Aminullah berlangsung sangat singkat karena pada tanggal 16 Januari 1971 beliau meninggal dunia. Sama seperti ayahnya, Sultan Muhammad Aminullah juga meninggal dua orang putera yang masih kecil, bernama Pangeran Abdullah dan Pangeran Amir. Dengan alasan belum cukup umur untuk pengampu jabatan sultan, maka jabatan wali sultan di Kesultanan untuk sementara diserahkan kepada Pangeran Nata Dilaga, anak Sultan Tamjidillah I, yang bergelar Sultan Tahmidillah II.
Sama dengan ayahnya, Sultan Tahmidillah II juga memutuskan secara sepihak dengan menyatakan bahwa pengganti dirinya sebagai Sultan di Kesultanan Banjar adalah puteranya yang bernama Pangeran Sulaiman Saidullah. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sultan Tahmidillah II selepas sholat Jumat pada bulan Januari 1767. Akibat pernyataan tersebut, maka peluang bagi Pangeran Abdullah maupun Pangeran Amir untuk menduduki tahta di Kesultanan Banjar praktis telah tertutup.
Pada tahun 1772 M, ketika Pangeran Abdullah berusia 18 tahun, bersama seorang Belanda bernama W.A. Palm, Pangeran Abdullah berencana merebut kembali tahta Kesultanan Banjar. Akan tetapi ternyata rencana itu telah diketahui oleh Sultan Tahmidillah II. Dengan berpura-pura mengundang jamuan makan malam, Pangeran Abdullah diracun, dicekik dan dibunuh oleh kaki tangan Sultan Tahmidillah II. Kejadian ini berlangsung pada tanggal 16 Maret 1776.
Pembunuhan terhadap Pangeran Abdullah berimbas langsung terhadap Pangeran Amir. Sultan Tahmidullah II memaksa "secara halus" kepada Pangeran Amir untuk keluar meninggalkan Kesultanan Banjar. Pada tahun 1782 M, Pangeran Amir meninggalkan Kesultanan Banjar menuju daerah Pasir. Di daerah tersebut terdapat paman beliau, seorang keturunan Bugis bernama Arung Torawe. Arung Torawe adalah saudara dari ibu Pangeran Amir yang merupakan seorang puteri berdarah Bugis.
Pangeran Amir menyusun kekuatan di Pasir dengan Arung Tolawe untuk merebut tahta di Kesultanan Banjar. Pada bulan Oktober 1785, pasukan Pangeran Amir dan Arung Tolawe yang terdiri dari sekurangnya 60 kapal menyerang Kesultanan Banjar dan mendarat di Tabanio, dan mulai merebut benteng-benteng yang termasuk didalam wilayah kekuasaan Kesultanan Banjar.
Pada tanggal 14 Maret 1786, kekuatan Kesultanan Banjar yang di bantu oleh Belanda mampu mematahkan perlawanan Pangeran Amir yang dibantu orang-orang Bugis. Pangeran Amir akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Ceylon (Srilanka) pada tahun 1789 M.
Pada tanggal 13 Agustus 1787, setelah perang. Belanda meminta kompensasi kepada Sultan Tahmidullah II berupa lada, emas, permata (intan), serta izin untuk mendirikan kantor di Tabanio, Hulu Sungai, Pulau Kaget dan Tatas. Perjanjian antara Kesultanan Banjar yang diwakili Sultan Tahmidillah II dengan Belanda yang diwakili oleh Kapten Christoffel Hoffman.
Makam Sultan Sulaiman Almutamidullah
di Karang Intan
Pada tahun 1801 M, Sultan Tahmidullah II meninggal dunia. Sebagai pengganti Sultan Tahmidullah II, pada tahun 1801, putera beliau bernama Sulaiman Saidullah dinobatkan sebagai Sultan di Kesultanan Banjar dengan gelar Sultan Sulaiman Almutamidullah bin Sultan Tahmidullah II (1801 - 1825).
Sultan Adam Al Wasik Bilah
Pada tahun 1825 M, Sultan Sulaiman mengundurkan diri sebagai sultan dan digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Adam Al Wasik Bilah (1825-1857). Pada masa pemerintahan Sultan Adam Al Wasik Bilah, dikeluarkan suatu undang-unsang Sultan Adam. Di dalam Undang-undang tersebut, terlihat sangat jelas bahwa sumber hukum di dalam Kesultanan Banjar bersumber pada hukum Islam. Oleh karena itulah kerajaan Banjar disebut sebagai Kerajaan Islam.

Masa Perlawanan terhadap Belanda
Akar permasalahan perlawanan terhadap Belanda dimulai dari perebutan tahta. Perebutan ini diawali dari meninggalnya Putera Mahkota Kesultanan Banjar, Sultan Muda Abdurrahman, pada tahun 1852 M. Meninggalnya Putera Mahkota meninggalkan bibit-bibit perpecahan di Kesultanan Banjar.
Pihak-pihak yang bertikai terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu pertama, Pangeran Tamjidillah yang mempunyai kedekatan dengan Belanda. Beliau adalah anak dari hasil perkawinan anatara Sultan Muda Abdurrahman dengan seorang selir bernama Nyai Besar Aminah. Kedua, Pangeran Hidayatullah yang mempunyai kedekatan dengan rakyat di Kesultanan Banjar. Beliau adalah anak dari hasil perkawinan kedua Sultan Muda Abdurrahman denagn Permaisuri Ratu Siti, puteri Mangkubumi Nata. Perkawinan pertama Sultan Muda Abdurrahman dengan Permaisuri Ratu Antarsari, saudara perempuan Pangeran Antasari, tidak menghasilkan putera. Ketiga, Pangeran Anom, adik dari Sultan Muda Abdurrahman yang mempunyai kedekatan dengan birokrasi istana.
Dari ketiga kelompok tersebut, Pangeran Tamjidillah mempunyai kedudukan yang menguntungkan karena kedekatannya dengan Belanda. Hal ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Pangeran Tamjidillah untuk menguatkan posisinya dalam menduduki jabatan sebagai Sultan. Di sisi lain, Belanda juga mempunyai kepentingan di Kesultanan Banjar. Dengan diangkatnya Pangeran Tamjidillah sebagai sultan, maka secara langsung kepentingan dan pengaruh Belanda di Kesultanan Banjar akan terjamin.
Sikap belanda terbukti dengan secara sepihak mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai putera mahkota pada tanggal 8 Agustus 1852. Sementara itu, pada tanggal 9 Oktober 1856, Pangeran Hidayatullah diangkat sebagai mangkubumi.
Pada tanggal 1 Novemver 1857, Sultan Adam Al Wasik Billah meninggal dunia. Pada tanggal 3 Novemver 1857, secara sepihak, Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai Sultan di Kesultanan Banjar dengan gelar Sultan Tamjidillah II. Di sisi lain, untuk menghindari perebutan tahta, Belanda menangkap Pangeran Anom dan membuangnya ke Jawa.
Pangeran Hidayatullah
Terpilihnya Sultan Tamjidillah II tidak secara langsung bisa meredakan ketegangan seputar perebutan tahta. Kedekatan Sultan dengan Belanda diartikan sebagai keberpihakan secara total Kesultanan Banjar kepada kekuasaan Belanda. Gesekan seputar ketidakpuasan pengangkatan sultan baru akhirnya menimbulkan beberapa gerakan Muning, yaitu gerakan sosial masyarakat tani yang kemudian menjadi motor dalam terjadinya Perang Banjar (1859 - 1905).
Pangeran Hidayatullah yang merupakan pewaris tahta yang sah, secara bertahap berusaha merebut pengaruh dari bangsawan, pemimpin daerah di wilayah Kesultanan Banjar dan rakyat. Dukungan dari kaum bangsawan datang dari orang-orang seperti Nyai Ratu Komala Sari, istri almarhum Sultan Adan Al Wasik Billah dan tiga orang puteri beliau, Ratu Kasuma Negara, Ratu Aminah dan Ratu Keramat, serta Pangeran Antasari. Dukungan dari pemimpin daerah datang dari Panembahan Muda Datu Aling, pemimpin Gerakan Muning, dan Jalil, pemimpin daerah Banua Lima.
Besarnya dukungan terhadap Pangeran Hidayatullah membuat Sultan Tamjidillah II merasa terdesak. Beliau kurang mendapat dukungan dari Belanda karena Belanda menganggap sengketa perebutan tahta di kalangan bangsawan di Kesultanan Banjar adlah persoalan internal yang tidak secara langsung berpengaruh terhadap kepentingan Belanda. Akhirnya, karena dilanda ketakutan akan pecahnya kudeta terhadap dirinya, Sultan Tamjidillah II melarikan diri ke Banjarmasin pada bulan April 1859.
Karena Sultan Tamjidillah II melarikan diri, praktis terjadi kekosongan pemerintahan di Kesultanan Banjar. Untuk mengantisipasinya, Belanda mengambil alih secara langsung pemerintahan Kesultanan Banjar dan meletakkannya di bawah pemerintahan seorang residen yang bernama Residen von Bertheim.
Sepeninggal Sultan Tamjidillah II, musuh utama gerakan Muning. Kini perlawanan beralih pada Belanda selaku "dalang" dalam sengketa di Kesultanan Banjar. Dukungan kepada Pangeran Hidayatullah kini lebih ditujukan untuk menghantam Belanda agar angkat kaki dari wilayah Kesultanan Banjar, Belanda kini tidak mempunyai pilihan lain karena berhadapan secara langsung dengan kekuatan yang digalang oleh Pangeran Hidayatullah.
Pangeran Antasari
Pangeran Antasari dipercaya oleh Pangeran Hidayatullah untuk menjadi penghubung antara istana, pemimpin pergerakan di daerah dan rakyat. Beliau menghimpun dan menggerakkan para pemimpin daerah beserta pengikutnya, mulai dari Muning, Benua Lima, Tanah Dusun dampai Pasir.  Bisa disimpulkan bahwa otak perlawanan pada Perang Banjar adalah Pangeran Antasari, meskipun pucuk pimpinan tertinggi yang diakui oleh rakyat adalah Pangeran Hidayatullah. Keterangan ini merujuk pada pernyataan Residen Von Bertheim yang menjuluki Pangeran Antasari  sebagai "Pemimpin Pemberontakan", jauh hari sebelum pertempuran pertama dalam Perang Banjar meletus pada tanggal 28 April 1859.

Perang Banjar (1859 - 1905)
Monumen Perang Banjar
Pertempuran di Benteng
Gunung Tongka

  • Tanggal 28 April 1859, terjadi serangan pertama yang dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari. Dengan kekuatan sekitar 300 orang, Pangeran Antasari memimpin penyerbuan ke benteng Belanda di Pangaron. Setelah itu beberapa pertempuran lain kemudian meletus, antara lain, pertempuran di benteng Gunung Lawak pada tanggal 29 September 1859, pertempuran di kubu pertahanan Munggu Tayur pada bulan Desember 1859.
Kapal Onrust
  • Penenggelaman Kapal Onrust di Sungai Barito oleh Tumenggung Surapati, seorang tokoh dari Suku Dayak Siang, pada tanggal 26 Desember 1859, penyerbuan gudang garam Belanda di Pulau Petak, sebelah hulu Kuala Kapuas oleh tumenggung Surapati dan Pambakal Sulil, yang mengakibatkan Letnan Bichon tewas terkena tombak pada penyerangan itu, pertempuran di Leogong pada tanggal 11 Februari 1860 yang mengakbatkan mundurnya 2 kapal perang Belanda Suriname dan  Boni akibat lambung kapal Suriname bocor setelah ditembak dengan meriam dari arah daratan.
Pertempuran Kotta-mara
dengan Kapal Perang Celebes
  • Pada 22 Februari 1860, kembali kapal perang Celebes dan Monterado dikirim menyerang benteng Leogong. Benteng ini dikepung dengan dua buah kapal perang di hulu dan disebelah hilir serta 200 serdadu didaratkan. Pertempuran sengit pun terjadi sepanjang sungai Barito. Menyadari terhadap pengepungan ini Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati melakukan siasat mundur untuk menghindarkan banyaknya jatuh korban. Perang ini berakhir tanpa hasil yang memuaskan bagi Belanda. Untuk mengantisipasi kapal-kapal perang Belanda, Tumenggung Surapati dan Pangeran Antasari mengerahkan beratus-ratus perahu dengan sebuah perahu komando yang besar. Pada perahu besar ini dipancangkan bendera kuning. Armada perahu ini disertai pula dengan beberapa buah lanting kotta-mara (katamaran) semacam panser terapung. Bentuk kotta-mara ini sangat unik karena dibuat dari susunan bambu yang membentuk sebuah benteng terapung. Kotta-mara dilengkapi dengan beberapa pucuk meriam dan lila. Selain kapal perang Onrust yang berhasil ditenggelamkan pada 26 Desember 1859, sebelumnya yaitu pada bulan Juli 1859 juga ditenggelamkan kapal perang Cipanas dalam pertempuran di sepanjang Barito di sekitar pulau Kanamit dan pertempuran di Amawang pada tanggal 31 Maret 1860.
  • Pada tanggal 28 Januari 1862, Pangeran Hidayatullah menyerah kepada Belanda dengan alasan kesehatan. Tetapi karena Belanda bermaksud untuk membuang Pangeran Hidayatullah ke Jawa, maka beliau akhirnya melarikan diri. Hanya berselang satu bulan, tepatnya pada tanggal 28 Februari 1862, Pangeran Hidayatullah kembali menyerah kepada Belanda. Akhirnya, pada tanggal 3 Maret 1862, dengan menggunakan kapal api Bali, Pangeran Hidayatullah dan keluarga dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Beliau meninggal di pembuangan pada tahun 1904.
  • Setelah pembuangan Pangeran Hidayatullah, pemimpin tertinggi perlawanan dalam Perang Banjar diambil alih oleh Pangeran Antasari. Pada tanggal 14 Maret 1862, Pangeran Antasari diangkat sebagai pimpinan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar). Beliau menyandang gelar Panembahan Amir Oedin Khalifatul Mukminin. Upacara penobatan beliau dilaksanakan di hadapan para kepala Suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Tanah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan, yaitu Kiai Adipati Jaya Raja.
  • Jika ditarik dari garis keturunan, ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amin bin Muhammad Aminullah bin Sultan Kuning, jadi sebenarnya Pangeran Antasari adalah pewaris tahta Kesultanan Banjar yang sah, sebelum terjadinya "pengusiran" atas pewaris tahta Kesultanan Banjar sah, Muhammad Aminullah, oleh Sultan Tamjidillah I. Akan tetapi kedudukan Pangeran Antasari sebagai pemimpin tertinggi yang diakui oleh rakyat di Kesultanan Banjar ternyata tidak berlangsung lama. Pada tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari dikabarkan telah meninggal dunia karena penyakit cacar dan dimakamkan di Desa Bayan Bengok, di Hulu Sungai Teweh.
  • Pengganti Pangeran Antasari adalah puteranya yang bernama Muhammad Seman. Di mata rakyat, beliau merupakan Sultan Kesultanan Banjar terakhir yang mendapatkan tugas utama untuk menggantikan sang ayah dalam menjaga nyala api perlawanan dalam Perang Banjar. Perlawanan Muhammad Seman terpaksa harus berhenti karena beliau meninggal dunia dalam suatu pertempuran melawan Belanda di sungai Manawing pada tahun 1905. Beliau dimakamkan di Puncak Gunung Puruk Cahu.
  • Dengan meninggalnya Muhammad Seman, berarti riwayat Kesultanan Banjar juga telah berakhir. Setelah Perang Banjar (1859-1905), Belanda membuat beberapa keputusan, antara lain Kesultanan Banjar dihapuskan dan seluruh bekas daerah Kesultanan Banjar di masukkan ke dalam tatanan baru Residentie Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo. Dengan demikian berakhirlah riwayat Kesultanan Banjar yang telah berlangsung selama 379 tahun.

Sultan Kesultanan Banjar

  1. Sultan Suriansyah (1520 - 1546)
  2. Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah (1546 - 1570)
  3. Sultan Sultan Hidayatullah I bin Rahmatullah (1570 - 1595)
  4. Sultan Mustain Billah bin Sultan Hidayatullah I (1595 - 1638)
  5. Sultan Inayatullah bin Sultan mustain Billah (1642 - 1647)
  6. Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah (1647 - 1660)
  7. Sultan Ri'ayatullah bin Sultan Mustain Billah (1660 - 1663)
  8. Sultan Amrullah Bagus Kasuma bin Sultan Saidullah (1663 - 1679)
  9. Sultan Agung/ Pangeran Suryanata II bin Sultan Inayatullah (1663 - 1679)
  10. Sultan Amrullah Bagus Kasuma/ Suria Angsa/ Saidillah bin Sultan Saidullah (1679 - 1700)
  11. Sultan Tahmidullah I/ Panembahan Kuning bin Sultan Amrullah (1700 - 1717)
  12. Panembahan Kasuma Dilaga/ Tahlilullah (1717 - 1730)
  13. Sultan Il-Hamidullah/ Sultan Kuning bin Sultan Tahmidullah I (1730 -1734)
  14. Sultan Tamjidullah I bin Sultan Tahmidullah I bin Sultan Tahmidullah I (1734 - 1759)
  15. Sultan Muhammadillah/ Muhammad Aliuddin Aminullah bin Sultan Il-Hamidullah/ Sultan Kuning (1759 - 1761)
  16. Sunan Nata Alam bin Sultan Tamjidullah I (1761 - 1801)
  17. Sultan Sulaiman al-Mutamidullah/ Sultan Sulaiman Saidullah II bin Tahmidullah II (1801 - 1825)
  18. Sultan adam Al-Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman Al-Mutamidullah (1825 - 1857)
  19. Sultan Tamjidullah II al Watsiq Billah bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam (1857 - 1859)
  20. Sultan Hidayatullah Khalilullah bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam (1859 - 1862)
  21. Pangeran Antasari bin Pangeran Mashud bin Sultan Amir bin Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah (1862)
  22. Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin (1862-1905)
  23. Pangeran Khairul Saleh, trah Sultan Sulaiman (2010)





sumber :